salahsatu ‘yang tersembunyi’
“Wali-Wali Allah tidak berkata: ‘ikuti saya’
tapi berkata: ‘Ikuti Allah dan Rasul-Nya!’
Siapa yang terbuka hatinya mengikuti mereka.
Wali-Wali Allah tersembunyi, bukan fisiknya tapi Maqom Spiritualnya
[tersembunyi] dari orang-orang yang buta matahatinya.
Banyak yang ingin mendekati Allah tapi menjauhi para wali-Nya.
Pemuka para wali adalah para Nabi dan Sahabat Rasulullah Saw.
Sultan para wali adalah Nabiyur-Rahmah Muhammad Saw.
yang melalui beliau mengalir ilmu-ilmu Hakikat Allah
dari “hati spiritual” ke “hati spiritual” para hamba-Nya yang mukhlisin.”
- Dikutip dari kata-kata mutiara Wiyoso Hadi -
Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra, bahwa Rasulullah SAW (ShollaLlahu ‘Alayhi Wassalam) bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, (mereka) tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?” Beliau SAW menjawab: “Itulah ‘Uways al-Qarani.” Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah ‘Uways al-Qarani?” Beliau SAW menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan) , janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo’a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan kepada ‘Uways, “Berhenti, dan berikanlah syafa’at!” Maka Allah memberikan syafa’at sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”
“Wahai ‘Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, ‘Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama ‘Uways?”
Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu ‘Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama ‘Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik) , dan lebih miskin daripada dia.”
Maka, menangislah ‘Umar ra, lalu beliau berkata: “Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafa’atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” Maka ‘Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” “Ya,” jawabnya. Beliau bertanya: “Dimanakah tempatnya?” Ia menjawab: “Di bukit ‘Arafat.” Kemudian berangkatlah ‘Umar dan ‘Ali ra dengan cepat menuju bukit ‘Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: “Assalamu’alayka wa rahmatullah wa barakatuh.” ‘Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.
Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum.” Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” Ia menjawab: ” `Abdullah (hamba Allah).” Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”
Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama ‘Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah ‘Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu. ”
Ia menjawab: “Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam (‘alayhis-salam) , tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu’min (beriman) dan muslim yang doanya diterima.” ’Umar dan ‘Ali ra berkata: ”Sudah pasti kamu yang paling pantas.”
‘Uways berkata: “Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali ra: “Ini adalah ‘Umar ‘Amir al-Mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib.” Lalu ‘Uways bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai ‘Amir al-Mu’minin, dan kepadamu pula wahai putra ‘Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan.” Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu.”
Lalu ‘Umar ra berkata kepadanya: “Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu.”
Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai ‘Amir al-Mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai ‘Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu. ”
Ketika ‘Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai ‘Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” Kemudian ‘Uways berkata: “Wahai ‘Amir al-Mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain.” Maka ‘Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan ‘Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.
Sumber:
“The Children around the Table of Allah” by Shaykh Muhammad Sa’id al-Jamal ar-Rifa’i
Sunday, April 10, 2011
Saturday, April 9, 2011
Berhati-hatilah dalam mengeluarkan Tutur & Kata ...
Bertudung & Ungkapan Hina Hukum?
Oleh : Ust Zaharuddin Abd Rahman
“Tak pe ustaz kan, pandangan pertama
tak berdosakan, cuma kami pandang lama
je la ?” tanya seorang pemuda berumur
35 tahun kepada saya sambil tersenyum-
senyum selepas dia merenung wanita
berskirt di hadapannya.
Ia adalah satu perkara yang amat
menyedihkan, ia sebenarnya hasil dari
sikap sebahagian umat Islam hari ini
mengambil ringan tentang hukum Islam.
Berkenaan larangan melihat kali kedua
kepada aurat ini diriwayat dalam
beberapa buah hadith, antaranya
hadith :
“Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata:
Saya bertanya kepada Rasulullah s. a.
w. tentang melihat (aurat wanita)
secara tiba-tiba tanpa sengaja. Maka
jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu
itu!” (Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud
dan Tarmizi) – Iaitu, Jangan kamu
ulangi melihat untuk kedua kalinya.
Demikian juga kata Baginda SAW kepada
Ali KW :
Ertinya : “Jangan kamu ikuti satu
pandangan dengan pandangan yang lain,
kerana yang pertama bagimu (
diampunkan) dan tidak bagi yang kedua”
( Riwayat Ahmad, Abu Daud, Albani :
Hasan)
Artis & Lawak Hukum
Lebih teruk lagi terdapat artis
Malaysia yang sanggup menggunakan
lafaz-lafaz Islam seperti ‘MashaAllah’
dan ‘InshaAllah’ serta ‘Allahu Akbar’
dalam lakonan lawak mereka sambil
sengaja disebut dalam bentuk yang
melucukan. Ini amat jelas
memperlawakkan lafaz mulia Islam, ia
amat kerap dilakukan oleh satu
kumpulan pelawak Malaysia yang
terkenal. Moga mereka diberikan
hidayah oleh Allah SWT.
Demikian juga dengan ucapan
alhamdulillah bagi seorang artis yang
berpakaian separuh bogel dikhalayak
umum apabila berjaya meraih sesuatu
anugerah di media. Atas nama seni
dirasakan tindakannya halal. Pada
hakikatnya jika lakonannya itu penuh
dengan adegan ‘peluk sana sini’
dan ‘dedah sana sini’, maka di ketika
itu ia bukanlah lagi sebuah seni mulia
yang diiktiraf Islam. Ia adalah
seni ‘fasad’ yang berdosa dan tidak
layak diraikan dengan ungkapan mulia
Islam.
Ketika itu, kemenangan mereka di atas
pentas dan melafazkan ucapan
sedemikian adalah satu bentuk
mempermainkan hukum dan lafaz Islam di
tempat yang tidak sewajarnya. Seolah-
olah seorang yang ingin merompak
membaca ‘Bismilah’ ketika memulakan
rompakannya dan
mengucapkan ‘Alhamdulillah’ apabila
berjaya terlepas dari kejaran polis,
atau menyebut ‘Alhamdulillah’ di dalam
tandas, atau seperti seorang peminum
arak mengucapkan “alhamdulillah”
apabila menyelesaikan minumannya.
Menurut kaedahnya, semua ini
menambahkan lagi dosa si pelaku
terbabit disebabkan wujud unsur
penghinaan samada secara langsung atau
tidak langsung kepada hukum serta
lafaz mulia Islam. Walaupun mereka
tidak langsung berniat untuk menghina
lafaz mulia itu.
Apabila ia adalah sebuah hukum atau
ucapan zikrullah, maka adalah tidak
harus sama sekali sesiapa juga
mempermainkan atau menyebutnya di
tempat yang tidak sewajarnya. Nabi SAW
bersabda :-
Ertinya : ” Sesungguhnya seorang hamba
yang bercakap sesuatu kalimah atau
ayat tanpa mengetahui implikasi dan
hukum percakapannya, maka kalimah itu
boleh mencampakkannya di dalam Neraka
sejauh antara timur dan barat” (
Riwayat Al-Bukhari dengan Fathul Bari,
Bab Hifdz Lisan, 11/376 , no 6477)
Imam Ibn Hajar Al-Asqolani menegaskan
bahawa erti hadith ini adalah seorang
yang bercakap tanpa jelas maksud
ayatnya sehingga menjadikan ia boleh
membawa maksud yang pelbagai sehingga
sebahagiannya boleh mencarikkan
sesuatu hukum. (Fath Al-Bari, 11/376)
Hina Islam, Bertudung & Bermaksiat
Lebih Besar Dosa
“Amat memalukan la ustaz, saya baru
jumpa satu video yang tunjukkan
pasangan melayu ditangkap di tasik-
tasik dan tempat awam tengah
bercumbuan, apa pandangan ustaz,
hampir 95 % darinya bertudung jenis
tak sempurna tu ustaz, ustaz tau tak?”
tanya seorang pendengar kuliah saya
sejurus selepas kuliah saya berkenaan
aurat.
Kemudian selang beberapa hari, pemuda
ini menghantar email kepada saya
beserta satu petikan video yang
dimaksudkan. La Hawla Wala Quwwata
Illa Billah.. wa Inna lillahi wa inna
ilaihi rajiun.. memang amat
mendukacitakan.
Pemuda itu juga menulis
seperti ‘kepeningan’ dan ‘kebingungan’
dengan persekitaran ini dengan katanya
“Boleh tak agaknya saya buat
kesimpulan bahawa hampir semua wanita
yang bertudung pendek atau fesyen,
dengan kain belah atau baju sempit
atau baju kurung biasa, semua ni jenis
yang ‘murah’ dan boleh diajak seks
bebas dengan mudah hari ni, apa
pandangan ustaz?” Mengurut dada saya
mendengar kesimpulan pemuda berpakaian
kemas dan bekerjaya profesional ini.
Sudah tentu amat marah para wanita
dengan kesimpulan si pemuda ini.
“Saya hanya masih percaya dengan
wanita yang berjubah dan bertudung
labuh sahaja sekarang ini ustaz,
harapnya mereka dapat pertahan maruah
dan kesucian mereka serta tak jadi
macam si pemakai tudung pendek yang
terbukti tiada banyak beza dengan free
hair” katanya lagi dengan tegas.
Selepas pemuda ini mengutarakan
pendiriannya barulah saya memberikan
penjelasan panjang lebar. Bagaimanapun
saya belum berhasrat menyebutnya di
ruangan ini, cukuplah saya dedahkan
betapa kecewanya pemuda profesional
ini dengan apa yang berlaku di hadapan
matanya.
Kesimpulannya, wahai wanita bertudung
kembalikan maruah anda dengan tutupan
aurat yang sebenarnya, akhlak wanita
Islam yang sebenarnya, janganlah
merosakkan imej Islam itu dengan
maksiat yang amat dimurkai Allah SWT.
Sesungguhnya kenikmatan duniawi amat
amat sementara, carilah kenikmatan
akhirat yang kekal abadi.
Dari sudut hukum pula, hal wanita
bertudung yang melakukan maksiat,
dosanya sudah tentu lebih hebat dari
wanita yang tidak bertudung yang
melakukan maksiat. Hal ini boleh
difahami dari ayat seperti :-
Ertinya : Wahai isteri-isteri Nabi,
barangsiapa di antaramu yang melakukan
maksiat dengan jelas, maka di gandakan
azab buatmu dua kali ganda” (Al-Ahzab:
59)
Memang benar ayat ini ditujukan khas
buat isteri-isteri Nabi SAW disebabkan
kemulian dan kedudukan mereka yang
sangat mulia, bagaimanapun ayat ini
sebenarnya menggariskan bahawa setiap
kali bergandanya kemuliaan, maka
bergandalah dosanya (jika melakukan
maksiat), demikian hukuman ke atas
wanita bebas lebih berat dari wanita
hamba sahaya di zaman silam. Dikatakan
sebabnya adalah kerana bertambahnya
mudarat dan penghinaan kepada Nabi SAW
(Al-Jami’ Li Ahkam AL-Quran ; AL-
Qurtubi, 14/ 114 dengan sedikit
pindaan )
Demikian jualah bagi wanita bertudung
yang telah menaik tarafkan
kedudukannya dengan kemuliaan Islam,
tetapi kemudiannya melakukan maksiat.
Maka jika bersandarkan kaedah di atas,
jelaslah dosa mereka bertambah besar
kerana maksiat itu sendiri dan
merosakkan imej Islam secara jelas.
Bertawbatlah. Demikian juga halnya
maksiat (termasuk pelaburan internet
yang disepakati haram secara sepakat
ulama dunia dan Malaysia) yang
dilakukan oleh seorang ustaz yang jauh
lebih besar dosanya dari dosa oleh
lelaki biasa di sebabkan imej dan
kedudukan yang dibawanya.
Sekian,
Ust Zaharuddin Abd Rahman
28 April 2007 ( 10 Rabiul Akhir 1428
H)
Oleh : Ust Zaharuddin Abd Rahman
“Tak pe ustaz kan, pandangan pertama
tak berdosakan, cuma kami pandang lama
je la ?” tanya seorang pemuda berumur
35 tahun kepada saya sambil tersenyum-
senyum selepas dia merenung wanita
berskirt di hadapannya.
Ia adalah satu perkara yang amat
menyedihkan, ia sebenarnya hasil dari
sikap sebahagian umat Islam hari ini
mengambil ringan tentang hukum Islam.
Berkenaan larangan melihat kali kedua
kepada aurat ini diriwayat dalam
beberapa buah hadith, antaranya
hadith :
“Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata:
Saya bertanya kepada Rasulullah s. a.
w. tentang melihat (aurat wanita)
secara tiba-tiba tanpa sengaja. Maka
jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu
itu!” (Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud
dan Tarmizi) – Iaitu, Jangan kamu
ulangi melihat untuk kedua kalinya.
Demikian juga kata Baginda SAW kepada
Ali KW :
Ertinya : “Jangan kamu ikuti satu
pandangan dengan pandangan yang lain,
kerana yang pertama bagimu (
diampunkan) dan tidak bagi yang kedua”
( Riwayat Ahmad, Abu Daud, Albani :
Hasan)
Artis & Lawak Hukum
Lebih teruk lagi terdapat artis
Malaysia yang sanggup menggunakan
lafaz-lafaz Islam seperti ‘MashaAllah’
dan ‘InshaAllah’ serta ‘Allahu Akbar’
dalam lakonan lawak mereka sambil
sengaja disebut dalam bentuk yang
melucukan. Ini amat jelas
memperlawakkan lafaz mulia Islam, ia
amat kerap dilakukan oleh satu
kumpulan pelawak Malaysia yang
terkenal. Moga mereka diberikan
hidayah oleh Allah SWT.
Demikian juga dengan ucapan
alhamdulillah bagi seorang artis yang
berpakaian separuh bogel dikhalayak
umum apabila berjaya meraih sesuatu
anugerah di media. Atas nama seni
dirasakan tindakannya halal. Pada
hakikatnya jika lakonannya itu penuh
dengan adegan ‘peluk sana sini’
dan ‘dedah sana sini’, maka di ketika
itu ia bukanlah lagi sebuah seni mulia
yang diiktiraf Islam. Ia adalah
seni ‘fasad’ yang berdosa dan tidak
layak diraikan dengan ungkapan mulia
Islam.
Ketika itu, kemenangan mereka di atas
pentas dan melafazkan ucapan
sedemikian adalah satu bentuk
mempermainkan hukum dan lafaz Islam di
tempat yang tidak sewajarnya. Seolah-
olah seorang yang ingin merompak
membaca ‘Bismilah’ ketika memulakan
rompakannya dan
mengucapkan ‘Alhamdulillah’ apabila
berjaya terlepas dari kejaran polis,
atau menyebut ‘Alhamdulillah’ di dalam
tandas, atau seperti seorang peminum
arak mengucapkan “alhamdulillah”
apabila menyelesaikan minumannya.
Menurut kaedahnya, semua ini
menambahkan lagi dosa si pelaku
terbabit disebabkan wujud unsur
penghinaan samada secara langsung atau
tidak langsung kepada hukum serta
lafaz mulia Islam. Walaupun mereka
tidak langsung berniat untuk menghina
lafaz mulia itu.
Apabila ia adalah sebuah hukum atau
ucapan zikrullah, maka adalah tidak
harus sama sekali sesiapa juga
mempermainkan atau menyebutnya di
tempat yang tidak sewajarnya. Nabi SAW
bersabda :-
Ertinya : ” Sesungguhnya seorang hamba
yang bercakap sesuatu kalimah atau
ayat tanpa mengetahui implikasi dan
hukum percakapannya, maka kalimah itu
boleh mencampakkannya di dalam Neraka
sejauh antara timur dan barat” (
Riwayat Al-Bukhari dengan Fathul Bari,
Bab Hifdz Lisan, 11/376 , no 6477)
Imam Ibn Hajar Al-Asqolani menegaskan
bahawa erti hadith ini adalah seorang
yang bercakap tanpa jelas maksud
ayatnya sehingga menjadikan ia boleh
membawa maksud yang pelbagai sehingga
sebahagiannya boleh mencarikkan
sesuatu hukum. (Fath Al-Bari, 11/376)
Hina Islam, Bertudung & Bermaksiat
Lebih Besar Dosa
“Amat memalukan la ustaz, saya baru
jumpa satu video yang tunjukkan
pasangan melayu ditangkap di tasik-
tasik dan tempat awam tengah
bercumbuan, apa pandangan ustaz,
hampir 95 % darinya bertudung jenis
tak sempurna tu ustaz, ustaz tau tak?”
tanya seorang pendengar kuliah saya
sejurus selepas kuliah saya berkenaan
aurat.
Kemudian selang beberapa hari, pemuda
ini menghantar email kepada saya
beserta satu petikan video yang
dimaksudkan. La Hawla Wala Quwwata
Illa Billah.. wa Inna lillahi wa inna
ilaihi rajiun.. memang amat
mendukacitakan.
Pemuda itu juga menulis
seperti ‘kepeningan’ dan ‘kebingungan’
dengan persekitaran ini dengan katanya
“Boleh tak agaknya saya buat
kesimpulan bahawa hampir semua wanita
yang bertudung pendek atau fesyen,
dengan kain belah atau baju sempit
atau baju kurung biasa, semua ni jenis
yang ‘murah’ dan boleh diajak seks
bebas dengan mudah hari ni, apa
pandangan ustaz?” Mengurut dada saya
mendengar kesimpulan pemuda berpakaian
kemas dan bekerjaya profesional ini.
Sudah tentu amat marah para wanita
dengan kesimpulan si pemuda ini.
“Saya hanya masih percaya dengan
wanita yang berjubah dan bertudung
labuh sahaja sekarang ini ustaz,
harapnya mereka dapat pertahan maruah
dan kesucian mereka serta tak jadi
macam si pemakai tudung pendek yang
terbukti tiada banyak beza dengan free
hair” katanya lagi dengan tegas.
Selepas pemuda ini mengutarakan
pendiriannya barulah saya memberikan
penjelasan panjang lebar. Bagaimanapun
saya belum berhasrat menyebutnya di
ruangan ini, cukuplah saya dedahkan
betapa kecewanya pemuda profesional
ini dengan apa yang berlaku di hadapan
matanya.
Kesimpulannya, wahai wanita bertudung
kembalikan maruah anda dengan tutupan
aurat yang sebenarnya, akhlak wanita
Islam yang sebenarnya, janganlah
merosakkan imej Islam itu dengan
maksiat yang amat dimurkai Allah SWT.
Sesungguhnya kenikmatan duniawi amat
amat sementara, carilah kenikmatan
akhirat yang kekal abadi.
Dari sudut hukum pula, hal wanita
bertudung yang melakukan maksiat,
dosanya sudah tentu lebih hebat dari
wanita yang tidak bertudung yang
melakukan maksiat. Hal ini boleh
difahami dari ayat seperti :-
Ertinya : Wahai isteri-isteri Nabi,
barangsiapa di antaramu yang melakukan
maksiat dengan jelas, maka di gandakan
azab buatmu dua kali ganda” (Al-Ahzab:
59)
Memang benar ayat ini ditujukan khas
buat isteri-isteri Nabi SAW disebabkan
kemulian dan kedudukan mereka yang
sangat mulia, bagaimanapun ayat ini
sebenarnya menggariskan bahawa setiap
kali bergandanya kemuliaan, maka
bergandalah dosanya (jika melakukan
maksiat), demikian hukuman ke atas
wanita bebas lebih berat dari wanita
hamba sahaya di zaman silam. Dikatakan
sebabnya adalah kerana bertambahnya
mudarat dan penghinaan kepada Nabi SAW
(Al-Jami’ Li Ahkam AL-Quran ; AL-
Qurtubi, 14/ 114 dengan sedikit
pindaan )
Demikian jualah bagi wanita bertudung
yang telah menaik tarafkan
kedudukannya dengan kemuliaan Islam,
tetapi kemudiannya melakukan maksiat.
Maka jika bersandarkan kaedah di atas,
jelaslah dosa mereka bertambah besar
kerana maksiat itu sendiri dan
merosakkan imej Islam secara jelas.
Bertawbatlah. Demikian juga halnya
maksiat (termasuk pelaburan internet
yang disepakati haram secara sepakat
ulama dunia dan Malaysia) yang
dilakukan oleh seorang ustaz yang jauh
lebih besar dosanya dari dosa oleh
lelaki biasa di sebabkan imej dan
kedudukan yang dibawanya.
Sekian,
Ust Zaharuddin Abd Rahman
28 April 2007 ( 10 Rabiul Akhir 1428
H)
Kelebihan Kalimah Lailahaillallah...
Assalamualaikum kepada semua sahabat...Alhamdulillah pada kali ini ana ingin berkongsi dengan sahabat semua tentang kelebihan kalimah Tauhid...
Kelebihan kalimah "LAILAHAILLALLAH"...
Apabila seseorang telah melafazkan kalimah tayibah bererti is telah membuat pengakuan terhadap Tuhannya. Segala urusan duniawi dan ukhrawi, tidur, bangun, belajar, mengajar, berniaga, berkebun, bertani, berkahwin, mengurus rumah tangga dan semua yang kita lakukan semata-mata untuk mencari keredhaan dariNYA.
Oleh kerana kalimah "LAILAHAILALLAH" sangat mulia di sisi ALLAH swt maka ALLAH memberikan ganjaran yang cukup besar dan banyak kelebihannya jika kita mengamalkannya.. Kelebihan dan ganjaran yang ana tulis untuk pengisian kali ini bukanlah untuk kita melakukan segala-galanya hanya untuk meraih ganjaran dari ALLAH.. Tetapi adalah untuk memberikan kita semangat untuk terus berbakti dan sabar dalam melakukan ibadat kita padaNYA..
Mudah-mudahan segala ilmu yang kita kongsikan dalam blog ini akan mendapat rahmat dari ALLAH...AMIN YA MUJIB...Allah Yang Maha Mengkabulkan doa hambaNYA...
Dimana Rasulullah saw pernah bersabda di dalam beberapa sabda baginda..antaranya ialah...
"dari Ubadah Bin ash Shaamiti Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud... Barangsiapa bersaksi mengatakan Lailahaillah Muhammadarrasulullah..Tiada Tuhan Yang Disembah Melainkan ALLAH.. dan Nabi Muhammad itu adalah pesuruh ALLAH, maka ALLAH akan mengharamkan neraka baginya.."
"Rasulullah pernah bersabda...Pernah pada suatu hari, sedang Nabi duduk dalam keadaan susah, maka datang Jibrail kepadanya lalu berkata..Wahai Muhammad, apa erti kesusaha, sedangkan ALLAH swt telah memberikan kepada ummatmu lima perkara dan ia belum pernah memberikan kepada seorang sebelum engkau iaitu....
1. Allah berfirman yang bermaksud " Aku disisi hambaKU ialah aku mengikut sankaannya terhadapKU..dan ALLAH tidak menyalahi sangkaan hamba terhadapnya..
2. Barangsiapa yang menutup keaiban orang lain di dunia. Maka ALLAH akan menutup keaibannya di akhirat kelak..
3. Tidak ditutup pintu taubat ke atas umat engkau..selagi mana nyawanya belum sampai ke ghogoroh.
4. Barangsiapa datang kepada ALLAH..dengan membawa dosa sepenuh bumi maka jika ia menyebut LAILAHAILLAH MUHAMMADARASULULLAH...maka nescaya ALLAh akan mengampuninya..
5. Allah swt menghapuskan dosa-dosa mereka yang sudah mati dengan sebab doa orang-orang yang masih hidup
"Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud..Barangsiapa yang berkata Laa ilaaha illALLAHU.. dan memanjangkan sebutannya (pada huruf mad) kata ulamak pada "laa" yang berada di awal, nescaya ALLAH akan meruntuhkan 4000 dosa besar yang telah dia perbuat...Para sahabat bertanya kepada Rasulullah..Bagaimana jika ia tiada dosa besar..maka Rasulullah berkata.. ALLAH akan mengampunkan dosa keluarganya dan jiran-jirannya..."
"Rasulullah saw pernah bersabda yang bermaksud.."barangsiapa yang membaca Laa ilahaillahu" maka ia akan dapat menolak bala sebanyak 99 bala dan dapat menghilangkan segala kegundahan dan kesedihan yang dialaminya.."
"Rasulullah bersabda..barangsiapa yang berkata kalimah LAILAHAILLAH MUHAMMADARRASULULLAH... sebanyak 100 kali..maka tatkala ia datang di hari kiamat dengan wajahnya seperti bulan purnama.."
"Rasulullah bersabda...Dalam sebuah hadis qudsi ALLAh berfirman "LAILAHAILLAH" adalah kalamku..akulah yang kehendaki pada kalimah ALLAH..barangsiapa yang berkata kalimah ini beerti ia telah masuk ke kotaku..Dan Barangsiapa yang masuk ke kotaku..maka selamatlah ia dari siksaku.."
Kelebihan kalimah "LAILAHAILLALLAH"...
Apabila seseorang telah melafazkan kalimah tayibah bererti is telah membuat pengakuan terhadap Tuhannya. Segala urusan duniawi dan ukhrawi, tidur, bangun, belajar, mengajar, berniaga, berkebun, bertani, berkahwin, mengurus rumah tangga dan semua yang kita lakukan semata-mata untuk mencari keredhaan dariNYA.
Oleh kerana kalimah "LAILAHAILALLAH" sangat mulia di sisi ALLAH swt maka ALLAH memberikan ganjaran yang cukup besar dan banyak kelebihannya jika kita mengamalkannya.. Kelebihan dan ganjaran yang ana tulis untuk pengisian kali ini bukanlah untuk kita melakukan segala-galanya hanya untuk meraih ganjaran dari ALLAH.. Tetapi adalah untuk memberikan kita semangat untuk terus berbakti dan sabar dalam melakukan ibadat kita padaNYA..
Mudah-mudahan segala ilmu yang kita kongsikan dalam blog ini akan mendapat rahmat dari ALLAH...AMIN YA MUJIB...Allah Yang Maha Mengkabulkan doa hambaNYA...
Dimana Rasulullah saw pernah bersabda di dalam beberapa sabda baginda..antaranya ialah...
"dari Ubadah Bin ash Shaamiti Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud... Barangsiapa bersaksi mengatakan Lailahaillah Muhammadarrasulullah..Tiada Tuhan Yang Disembah Melainkan ALLAH.. dan Nabi Muhammad itu adalah pesuruh ALLAH, maka ALLAH akan mengharamkan neraka baginya.."
"Rasulullah pernah bersabda...Pernah pada suatu hari, sedang Nabi duduk dalam keadaan susah, maka datang Jibrail kepadanya lalu berkata..Wahai Muhammad, apa erti kesusaha, sedangkan ALLAH swt telah memberikan kepada ummatmu lima perkara dan ia belum pernah memberikan kepada seorang sebelum engkau iaitu....
1. Allah berfirman yang bermaksud " Aku disisi hambaKU ialah aku mengikut sankaannya terhadapKU..dan ALLAH tidak menyalahi sangkaan hamba terhadapnya..
2. Barangsiapa yang menutup keaiban orang lain di dunia. Maka ALLAH akan menutup keaibannya di akhirat kelak..
3. Tidak ditutup pintu taubat ke atas umat engkau..selagi mana nyawanya belum sampai ke ghogoroh.
4. Barangsiapa datang kepada ALLAH..dengan membawa dosa sepenuh bumi maka jika ia menyebut LAILAHAILLAH MUHAMMADARASULULLAH...maka nescaya ALLAh akan mengampuninya..
5. Allah swt menghapuskan dosa-dosa mereka yang sudah mati dengan sebab doa orang-orang yang masih hidup
"Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud..Barangsiapa yang berkata Laa ilaaha illALLAHU.. dan memanjangkan sebutannya (pada huruf mad) kata ulamak pada "laa" yang berada di awal, nescaya ALLAH akan meruntuhkan 4000 dosa besar yang telah dia perbuat...Para sahabat bertanya kepada Rasulullah..Bagaimana jika ia tiada dosa besar..maka Rasulullah berkata.. ALLAH akan mengampunkan dosa keluarganya dan jiran-jirannya..."
"Rasulullah saw pernah bersabda yang bermaksud.."barangsiapa yang membaca Laa ilahaillahu" maka ia akan dapat menolak bala sebanyak 99 bala dan dapat menghilangkan segala kegundahan dan kesedihan yang dialaminya.."
"Rasulullah bersabda..barangsiapa yang berkata kalimah LAILAHAILLAH MUHAMMADARRASULULLAH... sebanyak 100 kali..maka tatkala ia datang di hari kiamat dengan wajahnya seperti bulan purnama.."
"Rasulullah bersabda...Dalam sebuah hadis qudsi ALLAh berfirman "LAILAHAILLAH" adalah kalamku..akulah yang kehendaki pada kalimah ALLAH..barangsiapa yang berkata kalimah ini beerti ia telah masuk ke kotaku..Dan Barangsiapa yang masuk ke kotaku..maka selamatlah ia dari siksaku.."
Friday, April 8, 2011
Cintailah Allah...
Di hadapan orang yang kita cinta,
hati kita akan berdegup kencang..
Tapi di depan orang yang kita suka,
hati kita akan gembira…
Di depan orang yang kita cinta,
musim sentiasa berbunga-bunga…
Di depan orang yang kita suka, musim itu cuma berangin sahaja…
Jikalau kita lihat di dalam mata orang yang kita cinta,
kita akan kaku…
Tapi jikalau kita melihat ke dalam mata orang yang kita suka,
kita akan tersenyum…
Di depan orang yang kita cinta,
lidah kelu untuk berkata-kata…
Di depan orang yang kita suka,
lidah bebas berkata apa sahaja…
Di depan orang yang kita cinta,
kita menjadi malu…
Di depan orang yang kita suka,
kita akan tunjukkan imej yang sebenar…
Kita tidak boleh merenung mata orang yang kita cinta…
Tapi kita selalu merenung mata orang yang kita suka…
Bila orang yang kita cinta menangis,
kita akan turut menangis…
Bila orang yang kita suka menangis,
kita akan turut membuat dia gembira…
Perasaan cinta bermula dari mata,
Perasaan suka bermula dari telinga…
Jadi, jikalau kita berhenti menyukai seseorang yang kita suka…
Umpama kita membuang telinga kita
Tapi jika kita cuba menutup mata
Cinta berbuah menjadi airmata
Setiap orang yang akan mengalami ini dalam hidup mereka,
Cuma fikirkanlah bersama-sama siapa yang anda cinta?.
Ada apa dengan cinta
Tetapi, hakikatnya?
Cinta kepada Allah SWT
Adalah lebih hakiki dan abadi selama-lamanya…
hati kita akan berdegup kencang..
Tapi di depan orang yang kita suka,
hati kita akan gembira…
Di depan orang yang kita cinta,
musim sentiasa berbunga-bunga…
Di depan orang yang kita suka, musim itu cuma berangin sahaja…
Jikalau kita lihat di dalam mata orang yang kita cinta,
kita akan kaku…
Tapi jikalau kita melihat ke dalam mata orang yang kita suka,
kita akan tersenyum…
Di depan orang yang kita cinta,
lidah kelu untuk berkata-kata…
Di depan orang yang kita suka,
lidah bebas berkata apa sahaja…
Di depan orang yang kita cinta,
kita menjadi malu…
Di depan orang yang kita suka,
kita akan tunjukkan imej yang sebenar…
Kita tidak boleh merenung mata orang yang kita cinta…
Tapi kita selalu merenung mata orang yang kita suka…
Bila orang yang kita cinta menangis,
kita akan turut menangis…
Bila orang yang kita suka menangis,
kita akan turut membuat dia gembira…
Perasaan cinta bermula dari mata,
Perasaan suka bermula dari telinga…
Jadi, jikalau kita berhenti menyukai seseorang yang kita suka…
Umpama kita membuang telinga kita
Tapi jika kita cuba menutup mata
Cinta berbuah menjadi airmata
Setiap orang yang akan mengalami ini dalam hidup mereka,
Cuma fikirkanlah bersama-sama siapa yang anda cinta?.
Ada apa dengan cinta
Tetapi, hakikatnya?
Cinta kepada Allah SWT
Adalah lebih hakiki dan abadi selama-lamanya…
Wednesday, April 6, 2011
Wuduk & taya'mum
Berwudhu
Berwudhu
Yang praktis dan mencukupi
Yang sebaik-baiknya
Hikmah-hikmahnya
Cara atau jalan untuk membina mental dan rohani sungguh banyak sekali. Jalan yang pasti ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengekalkannya yang disebut sebagai ibadah. Salah satu mata rantai ibadah itu adalah Wudhu'.
Kegunaan Air Wudhu
Untuk segala macam solat hukumnya wajib.
Untuk Thawaf di Ka'bah, thawaf apa saja, hukumnya wajib.
Sewaktu hendak membaca Al-Qur'an hukumnya sunnat
Sewaktu hendak tidur atau lain-lain perbuatan yang baik, hukumnya sunnat
Alat Yang Dipakai
Alat yang dipakai ialah air. Meskipun demikian, air yang digunakan untuk berwudhu' adalah air yang suci lagi menyucikan (pengertiannya?), iaitu: Air hujan, Air Sumur, Air Sungai, Air Laut, Air dari mata Air, Air Telaga, Air Danau, Air Ais, Air Ledeng.
Cara-caranya
Berniat dalam hati bahawa berwudhu' untuk..., lalu:
Membasuh muka dengan air (cukup sekali asalkan merata ke seluruh muka)
Basuhlan tangan hingga sampai dengan kedua siku (cukup sekali asal merata).
Sapulah sebahagian kepala, cukup sekali saja
Basuhlan kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (cukup sekali asal merata).
Bila dikerjakan seperti di atas, maka wudhu' sudah sah.
Berwudhu' yang lebih sempurna
Bila ingin berwudhu' lebih sempurna, yakni sempurna lahiriah dan sempurna pula dalam ganjaran, maka kerjakanlah tabahan-tambahannya dengan cara sebagai berikut:
1. Mulailah dengan mengucapkan Bismillaahir rahmaanir rahiim...
2. Menghadaplah kearah kiblat
3. Usahakanlah berwudhu' dengan tidak meminta bantuan orang lain, seperti menimba, dan sebagainya.
4. Basuhlah jari-jari tangan dengan menyelat-nyelatinya. Dan bagi jari yang bercincin, jam atau perhiasan yang dipakai di jari-jari lainnya, bukalah perhiasan tersebut agar air dapat merata membasahi seluruh jari-jari.
5. Berkumur-kumur.
6. Masukkanlah air ke dalam hidung, lalu keluarkanlah kembali (istinsyaq).
7. Gosoklah gigi untuk menghilangkan sisa makanan dan bau mulut yang kurang sedap.
8. Mulailah dengan anggota wudhu'yang sebelah kanan.
9. Ulangilah masing-masing sampai tiga kali (3X).
10. Ratakanlah air hingga membasahi seluruh anggota wudhu'
11. Ketika menyapu kepala, ratakan seluruhnya (letakkan ibu jari samping kiri dan kanan kepala, lalu putarlah telapak tangan dari depan ke belakang, kemudian kembali ke depan (cukup sekali).
12. Basuhlah telinga dengan memasukkan telunjuk ke lubang telinga, ibu jari dibelakang telinga.
13. Bila selesai berwudhu', hadapkan muka ke arah kiblat dan berdoalah dengan membaca:
Asyhadu an laa ilaaha illalaahu wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh, Allahummaj'alnii minat tawwaa biinaa waj'alnii minal mutathahhiriin.
Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ya allah , masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku masuk ke dalam golongan orang-orang yang suci.
14. Lakukanlah solat sunnat wudhu' dua raka'at.
Hal-hal yang Membatalkan Wudhu'
1. Keluar sesuatu dari "dua pintu" belakang seperti buang angin (kentut), buang air besar atau kecil, haid atau nifas, dan sebaganya.
2. Hilang akal (kerana sakit, mabuk, gila dan sebagainya) .
3. Bersetubuh.
Tayammum
"Manakala seorang muslim atau mukmin itu berwudhu, lalu ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari mukanya itu semua dosa yang dilihat oleh matanya bersama air atau bersama titisan yang terakhir dari air. Manakala ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah (terusir) semua dosa yang tersentuh oleh kedua tangannya bersama air atau bersama-sama dengan titisan terakhir dari air. Manakala ia membasuh kedua kakinya, maka sirnalah semua dosa yang pernah dijalani oleh kakinya bersama air atau bersama titisan air yang terakhir, sehingga keluar (selesailah) dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (Hr Imam Muslim dari Abu Hurairah).
Air Wudhu
Wudhu merupakan salah satu ibadah yang khas yang dapat dipakai untuk solat, thawaf, hendak tidur, jalan keluar rumah, serta memelihara jiwa dan raga dari berbagai cacat.
Wudhu dengan air bersih dan murni bererti meniti kosmetik tradisional dan anti biotik alamiah, kerana itu, Islam tidak membenarkan berwudhu dengan air musta'mal (air bekas dipakai), air buah-buahan, akar-akaran atau air yang sudah berubah sifat-sifatnya (warna, rasa dan baunya). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahawa wudhu ialah membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga dua siku, menyapu kepala, dan membasuh kaki hingga dua mata kaki yang diawali dengan niat dalam hati.
Almarhum Buya Hamka, melalui bukunya "Lembaga Hidup" menulis tentang wudhu sbb:
"Lima kali sekurang-kurangnya sehari semalam disuruh berwudhu dan solat. Dan meskipun wudhu belum lepas, sunnat pula memperbaharuinya. Oleh ahli tasawuf diterangkan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka, ertinya mencuci mata, hidung, mulut dan lidah, kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata dan makan. Mencuci tangan dengan air, dalam hati dirasa seakan-akan membasuh tangan yang terlanjur berbuat salah. Membasuh kaki, dan lain-lain demikian pula. Mereka perbuat hikmat-hikmat itu, meskipun di dalam hadis dan dalil tidak bertemu, adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, padahal bathinnya masih tetap kotor. Hatinya masih khizit, loba, tamak, rakus, sehingga wudhunya lima kali sehari itu tidak berbekas diterima Allah, dan sembahyangnya tidak menjauhkan dari pada fahsya (keji) dan mungkar (dibenci)".
Penulis "Lembaga Hidup" sengaja merangkaikan keutamaan wudhu dengan masalah kesehatan badan dan kebersihannya, lalu dihubungkan dengan sabda Nabi Muhammad s.a.w Tulisnya:
"Bukan kita hidup mencari puji, bukan pula supaya kita paling atas di dalam segala hal. Meskipun itu tidak kita cari, kalau kita menjaga kebersihan, kita akan dihormati orang juga". Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w: "Perbaguslah pakaianmu, perbaiki tunggangan (kenderaan) mu, sehingga kamu laksana sebutir tahi lalat di tengah-tengah pipi, di dalam pergaulan dengan orang banyak".
Allah s.w.t. menurunkan wahyu, memberi hidayah penuntun rohani dan jasmani agar keduanya tetap berfungsi dan terpelihara.
Rasulullah s.a.w bersabda:
"Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah pergi ke kuburan, lalu memberi salam : "Assalamu'alaikum Dara Qaumin (perkampungan orang mukmin) dan Insya Allah kami akan menyusul kemudian, saya ingin benar melihat-lihat saudaraku." Berkata sahabat: "Bukankah kami ini adalah saudaramu ya Rasulullah? "Ya, kamu adalah sahabatku, dan saudara-saudaraku yang belum datang kini." Sahabat kembali bertanya: "Bagaimanakah engkau dapat mengenal mereka yang belum datang kini dari ummatmu ya Rasulullah?" Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bagaimana pendapatmu jika seorang mempunyai kuda belang putih muka dan kakinya, ditengah-tengah kuda yang semuanya hitam, tidakkah mudah mengenal kudanya?" Para sahabat menjawab : "Benar Ya Rasulullah." "Maka itu ummatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya sebagai bekas wudhu, dan saya akan membimbing mereka itu ke Haudh (Telaga Syafa'at)"
Cahaya, Kebersihan dan Kehidupan
Dalam air wudhu yang sakral terdapat cahaya, kebersihan dan kehidupan. Air bekas (mus'tamal) atau tersadur najis, akan menjadi sumber penyakit, buruk bagi fisik, kimia, maupun biologis. Islam pun melarang berwudhu dengan air yang demikian. Air sebagai keperluan vital kehidupan. Al-Qur'an memberi penjelasan bahawa kehidupan dimulai dari air, seperti disebutkan dalam firmannya:
"Dan kami telah menciptakan segala sesuatu yang hidup itu dari air, apakah mereka belum mau juga beriman?" (Al-Anbiya:30).
Hal-hal Yang Tidak Membatalkan Wudhu
Banyak sekali perbuatan yang dikira orang membatalkan wudhu, padahal tidak. Misalnya, seorang pekerja yang berpalitan dengan oli dan minyak, mengira air wudhunya sudah rosak dan wudhunya batal, padahal tidak; sementara yang dianggap remeh ternyata justru membatalkan wudhunya. Beberapa hal yang tidak membatalkan wudhu antara lain:
1. Bersentuhan antara pria dan wanita, sudah dewasa, tanpa lapis, selama tidak mengandung niat yang nafsu dan tak senonoh. Dalam suatu hadis disebutkan:
"Aisyah r.a. berkata: Suatu malam aku kehilangan Rasulullah s.a.w. dari tempat tidurku, maka terabalah oleh telapak tanganku pada kedua telapak kakinya yang keduanya dalam keadaan berdiri; dan Rasulullah s.a.w. sedang sujud sambil membaca: Allaahumma innii a'udzu biridhaaka, min sakhatika, wa a'uudzu bimu' aafaatika min uquubatika, wa a'uudzu bika minka laa uhshiitsanaa'an 'alaika anta kamaa atsnayta 'alaa nafsika." (HR Muslim dan At Turmuzy).
Yang erti doanya: "Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari murkaMu, berlindung dibawah naunganMu; ringkasnya aku berlindung kepadaMu daripadaMu. Tiada terhitung puja-pujiku untukMu. Engkau sebagaimana pujianMu atas diriMu sendiri."
"Aku tidur dihadapan Rasulullah s.a.w., sedang kakiku berada di arah kiblat. Maka apabila Ia sujud, dirabanya aku dan dipegangnya kakiku". Sementara dalam lafazh yang lain disebutkan :"Maka jika ia akan sujud, kakiku, dirabanya". (HR Bukhary dan Muslim, sumber Aisyah)
2. Keluar darah dari tempat yang lazim, seperti luka, bukan dari qubul atau dubur.
3. Kerana muntah
4. Kerana makan minum. Seperti disebutkan dalam hadits nabi:
"Manimunah r.a. berkata: "Rasulullah s.a.w. telah makan di rumahnya dengan panggangan kambing, kemudian Rasulullah s.a.w. langsung solat tanpa memperbaharui wudhu." (HR Bukhary dan Muslim).
5. Terkena segala jenis najis atau kotoran lainnya. Najis tidak menghilangkan wudhu', hanya dia cukup dibersihkan saja.
6. Tersentuh kemaluan tanpa maksud yang lain. Seperti disebutkan dalam hadis:
"Bahawa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang orang yang menyentuh kemaluannya, apakah ia wajib berwudhu? Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak, dia adalah sebagian dari tubuhmu sendiri". (HR Lima Ahli Hadits)
Perosak Tayammum
Tayammum merupakan pengganti wudhu atau mandi. Kerana itu, ia boleh rosak atau batal apabila :
1. Langsung melihat air dan dapat menggunakannya (khusus bagi mereka yang bertayammum kerana tidak ada air).
2. Segala sesuatu yang membatalkan wudhu'.
Hal-hal lain yang perlu diketahui ialah:
1. Satu kali tayammum dapat digunakan untuk beberapa solat atau thawaf, baik yang wajib maupun yang sunat.
2. Apabila mendapatkan air, padahal solat sudah dikerjakan dengan tayammum, maka solatnya tidak perlu diulangi lagi.
Berwudhu
Yang praktis dan mencukupi
Yang sebaik-baiknya
Hikmah-hikmahnya
Cara atau jalan untuk membina mental dan rohani sungguh banyak sekali. Jalan yang pasti ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengekalkannya yang disebut sebagai ibadah. Salah satu mata rantai ibadah itu adalah Wudhu'.
Kegunaan Air Wudhu
Untuk segala macam solat hukumnya wajib.
Untuk Thawaf di Ka'bah, thawaf apa saja, hukumnya wajib.
Sewaktu hendak membaca Al-Qur'an hukumnya sunnat
Sewaktu hendak tidur atau lain-lain perbuatan yang baik, hukumnya sunnat
Alat Yang Dipakai
Alat yang dipakai ialah air. Meskipun demikian, air yang digunakan untuk berwudhu' adalah air yang suci lagi menyucikan (pengertiannya?), iaitu: Air hujan, Air Sumur, Air Sungai, Air Laut, Air dari mata Air, Air Telaga, Air Danau, Air Ais, Air Ledeng.
Cara-caranya
Berniat dalam hati bahawa berwudhu' untuk..., lalu:
Membasuh muka dengan air (cukup sekali asalkan merata ke seluruh muka)
Basuhlan tangan hingga sampai dengan kedua siku (cukup sekali asal merata).
Sapulah sebahagian kepala, cukup sekali saja
Basuhlan kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (cukup sekali asal merata).
Bila dikerjakan seperti di atas, maka wudhu' sudah sah.
Berwudhu' yang lebih sempurna
Bila ingin berwudhu' lebih sempurna, yakni sempurna lahiriah dan sempurna pula dalam ganjaran, maka kerjakanlah tabahan-tambahannya dengan cara sebagai berikut:
1. Mulailah dengan mengucapkan Bismillaahir rahmaanir rahiim...
2. Menghadaplah kearah kiblat
3. Usahakanlah berwudhu' dengan tidak meminta bantuan orang lain, seperti menimba, dan sebagainya.
4. Basuhlah jari-jari tangan dengan menyelat-nyelatinya. Dan bagi jari yang bercincin, jam atau perhiasan yang dipakai di jari-jari lainnya, bukalah perhiasan tersebut agar air dapat merata membasahi seluruh jari-jari.
5. Berkumur-kumur.
6. Masukkanlah air ke dalam hidung, lalu keluarkanlah kembali (istinsyaq).
7. Gosoklah gigi untuk menghilangkan sisa makanan dan bau mulut yang kurang sedap.
8. Mulailah dengan anggota wudhu'yang sebelah kanan.
9. Ulangilah masing-masing sampai tiga kali (3X).
10. Ratakanlah air hingga membasahi seluruh anggota wudhu'
11. Ketika menyapu kepala, ratakan seluruhnya (letakkan ibu jari samping kiri dan kanan kepala, lalu putarlah telapak tangan dari depan ke belakang, kemudian kembali ke depan (cukup sekali).
12. Basuhlah telinga dengan memasukkan telunjuk ke lubang telinga, ibu jari dibelakang telinga.
13. Bila selesai berwudhu', hadapkan muka ke arah kiblat dan berdoalah dengan membaca:
Asyhadu an laa ilaaha illalaahu wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh, Allahummaj'alnii minat tawwaa biinaa waj'alnii minal mutathahhiriin.
Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ya allah , masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku masuk ke dalam golongan orang-orang yang suci.
14. Lakukanlah solat sunnat wudhu' dua raka'at.
Hal-hal yang Membatalkan Wudhu'
1. Keluar sesuatu dari "dua pintu" belakang seperti buang angin (kentut), buang air besar atau kecil, haid atau nifas, dan sebaganya.
2. Hilang akal (kerana sakit, mabuk, gila dan sebagainya) .
3. Bersetubuh.
Tayammum
"Manakala seorang muslim atau mukmin itu berwudhu, lalu ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari mukanya itu semua dosa yang dilihat oleh matanya bersama air atau bersama titisan yang terakhir dari air. Manakala ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah (terusir) semua dosa yang tersentuh oleh kedua tangannya bersama air atau bersama-sama dengan titisan terakhir dari air. Manakala ia membasuh kedua kakinya, maka sirnalah semua dosa yang pernah dijalani oleh kakinya bersama air atau bersama titisan air yang terakhir, sehingga keluar (selesailah) dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (Hr Imam Muslim dari Abu Hurairah).
Air Wudhu
Wudhu merupakan salah satu ibadah yang khas yang dapat dipakai untuk solat, thawaf, hendak tidur, jalan keluar rumah, serta memelihara jiwa dan raga dari berbagai cacat.
Wudhu dengan air bersih dan murni bererti meniti kosmetik tradisional dan anti biotik alamiah, kerana itu, Islam tidak membenarkan berwudhu dengan air musta'mal (air bekas dipakai), air buah-buahan, akar-akaran atau air yang sudah berubah sifat-sifatnya (warna, rasa dan baunya). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahawa wudhu ialah membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga dua siku, menyapu kepala, dan membasuh kaki hingga dua mata kaki yang diawali dengan niat dalam hati.
Almarhum Buya Hamka, melalui bukunya "Lembaga Hidup" menulis tentang wudhu sbb:
"Lima kali sekurang-kurangnya sehari semalam disuruh berwudhu dan solat. Dan meskipun wudhu belum lepas, sunnat pula memperbaharuinya. Oleh ahli tasawuf diterangkan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka, ertinya mencuci mata, hidung, mulut dan lidah, kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata dan makan. Mencuci tangan dengan air, dalam hati dirasa seakan-akan membasuh tangan yang terlanjur berbuat salah. Membasuh kaki, dan lain-lain demikian pula. Mereka perbuat hikmat-hikmat itu, meskipun di dalam hadis dan dalil tidak bertemu, adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, padahal bathinnya masih tetap kotor. Hatinya masih khizit, loba, tamak, rakus, sehingga wudhunya lima kali sehari itu tidak berbekas diterima Allah, dan sembahyangnya tidak menjauhkan dari pada fahsya (keji) dan mungkar (dibenci)".
Penulis "Lembaga Hidup" sengaja merangkaikan keutamaan wudhu dengan masalah kesehatan badan dan kebersihannya, lalu dihubungkan dengan sabda Nabi Muhammad s.a.w Tulisnya:
"Bukan kita hidup mencari puji, bukan pula supaya kita paling atas di dalam segala hal. Meskipun itu tidak kita cari, kalau kita menjaga kebersihan, kita akan dihormati orang juga". Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w: "Perbaguslah pakaianmu, perbaiki tunggangan (kenderaan) mu, sehingga kamu laksana sebutir tahi lalat di tengah-tengah pipi, di dalam pergaulan dengan orang banyak".
Allah s.w.t. menurunkan wahyu, memberi hidayah penuntun rohani dan jasmani agar keduanya tetap berfungsi dan terpelihara.
Rasulullah s.a.w bersabda:
"Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah pergi ke kuburan, lalu memberi salam : "Assalamu'alaikum Dara Qaumin (perkampungan orang mukmin) dan Insya Allah kami akan menyusul kemudian, saya ingin benar melihat-lihat saudaraku." Berkata sahabat: "Bukankah kami ini adalah saudaramu ya Rasulullah? "Ya, kamu adalah sahabatku, dan saudara-saudaraku yang belum datang kini." Sahabat kembali bertanya: "Bagaimanakah engkau dapat mengenal mereka yang belum datang kini dari ummatmu ya Rasulullah?" Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bagaimana pendapatmu jika seorang mempunyai kuda belang putih muka dan kakinya, ditengah-tengah kuda yang semuanya hitam, tidakkah mudah mengenal kudanya?" Para sahabat menjawab : "Benar Ya Rasulullah." "Maka itu ummatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya sebagai bekas wudhu, dan saya akan membimbing mereka itu ke Haudh (Telaga Syafa'at)"
Cahaya, Kebersihan dan Kehidupan
Dalam air wudhu yang sakral terdapat cahaya, kebersihan dan kehidupan. Air bekas (mus'tamal) atau tersadur najis, akan menjadi sumber penyakit, buruk bagi fisik, kimia, maupun biologis. Islam pun melarang berwudhu dengan air yang demikian. Air sebagai keperluan vital kehidupan. Al-Qur'an memberi penjelasan bahawa kehidupan dimulai dari air, seperti disebutkan dalam firmannya:
"Dan kami telah menciptakan segala sesuatu yang hidup itu dari air, apakah mereka belum mau juga beriman?" (Al-Anbiya:30).
Hal-hal Yang Tidak Membatalkan Wudhu
Banyak sekali perbuatan yang dikira orang membatalkan wudhu, padahal tidak. Misalnya, seorang pekerja yang berpalitan dengan oli dan minyak, mengira air wudhunya sudah rosak dan wudhunya batal, padahal tidak; sementara yang dianggap remeh ternyata justru membatalkan wudhunya. Beberapa hal yang tidak membatalkan wudhu antara lain:
1. Bersentuhan antara pria dan wanita, sudah dewasa, tanpa lapis, selama tidak mengandung niat yang nafsu dan tak senonoh. Dalam suatu hadis disebutkan:
"Aisyah r.a. berkata: Suatu malam aku kehilangan Rasulullah s.a.w. dari tempat tidurku, maka terabalah oleh telapak tanganku pada kedua telapak kakinya yang keduanya dalam keadaan berdiri; dan Rasulullah s.a.w. sedang sujud sambil membaca: Allaahumma innii a'udzu biridhaaka, min sakhatika, wa a'uudzu bimu' aafaatika min uquubatika, wa a'uudzu bika minka laa uhshiitsanaa'an 'alaika anta kamaa atsnayta 'alaa nafsika." (HR Muslim dan At Turmuzy).
Yang erti doanya: "Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari murkaMu, berlindung dibawah naunganMu; ringkasnya aku berlindung kepadaMu daripadaMu. Tiada terhitung puja-pujiku untukMu. Engkau sebagaimana pujianMu atas diriMu sendiri."
"Aku tidur dihadapan Rasulullah s.a.w., sedang kakiku berada di arah kiblat. Maka apabila Ia sujud, dirabanya aku dan dipegangnya kakiku". Sementara dalam lafazh yang lain disebutkan :"Maka jika ia akan sujud, kakiku, dirabanya". (HR Bukhary dan Muslim, sumber Aisyah)
2. Keluar darah dari tempat yang lazim, seperti luka, bukan dari qubul atau dubur.
3. Kerana muntah
4. Kerana makan minum. Seperti disebutkan dalam hadits nabi:
"Manimunah r.a. berkata: "Rasulullah s.a.w. telah makan di rumahnya dengan panggangan kambing, kemudian Rasulullah s.a.w. langsung solat tanpa memperbaharui wudhu." (HR Bukhary dan Muslim).
5. Terkena segala jenis najis atau kotoran lainnya. Najis tidak menghilangkan wudhu', hanya dia cukup dibersihkan saja.
6. Tersentuh kemaluan tanpa maksud yang lain. Seperti disebutkan dalam hadis:
"Bahawa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang orang yang menyentuh kemaluannya, apakah ia wajib berwudhu? Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak, dia adalah sebagian dari tubuhmu sendiri". (HR Lima Ahli Hadits)
Perosak Tayammum
Tayammum merupakan pengganti wudhu atau mandi. Kerana itu, ia boleh rosak atau batal apabila :
1. Langsung melihat air dan dapat menggunakannya (khusus bagi mereka yang bertayammum kerana tidak ada air).
2. Segala sesuatu yang membatalkan wudhu'.
Hal-hal lain yang perlu diketahui ialah:
1. Satu kali tayammum dapat digunakan untuk beberapa solat atau thawaf, baik yang wajib maupun yang sunat.
2. Apabila mendapatkan air, padahal solat sudah dikerjakan dengan tayammum, maka solatnya tidak perlu diulangi lagi.
Bersalam dengan ajnabi?
salam,
apakah hukum menyalami wanita ajnabi?biasanya ahli politik bersalam dgn semua org.apakah hukumnya?
jawapan:
السلام عليكم ورحمة الله
بسم الله والحمد لله وبعد :
Berdasarkan pengamatan ulama, seorang lelaki tidak boleh bersalaman dengan wanita ajnabi.
Seorang tokoh mazhab Shafie yang disegani, Imam al-Nawawi menegaskan :
‘Sesungguhnya halal melihat kepada wanita ajnabi jika ia ingin menikahinya, atau ketika urusan jual beli, atau ketika mengambil sesuatu barang atau memberi kepadanya dan seumpamanya dan tidak harus menyentuhnya dalam sesuatu situasi berkenaan’. (al-Azkar, 228).
Dalilnya ialah ummul Mukminin Aisyah r.a pernah bersumpah menafikan Rasulullah s.a.w. pernah menyentuh tangan wanita dalam bai’ah peristiwa hijrah :
‘Demi Allah, tangan baginda tidak pernah menyentuh tangan wanita pun, baginda hanya berbai’ah dengan ucapan’. (Fath al-Bari 11/345-346 dan Sharh Sahih Muslim 13/10).
Hadis ini menjelaskan bahawa bai’ah wanita hanya berlaku dengan ucapan sahaja tanpa bersalaman. (Sharh Sahih Muslim 13/10).
Ini disokong oleh satu riwayat lain di mana Umaimah binti Raqiqah r.ah pernah berkata : ‘Aku datang kepada Rasulullah s.a.w. dalam kumpulan wanita, kami ingin berbai’ah dengannya. Kami berkata : “Kami berbai’ah denganmu wahai Rasulullah bahawa kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu, kami tidak mencuri, tida berzina, tidak membunuh anak-anak kami dan kami tidak akan membuat cerita dusta yang direka-reka serta kami tidak akan mengingkari perintahmu pada kebenaran”. Lantas Rasulullah s.aw. bersabda : “Pada perkara yang kamu mampu dan berdaya”. Umaimah menceritakan lagi : “Kami berkata bahawa Allah dan RasulNya lebih mengasihani kami daripada diri kami, ayuhlah kami ingin berbai’ah denganmu wahai Rasulullah”. Lalu Nabi s.a.w menjawab : “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita, sesungguhnya perkataanku kepada seratus orang wanita adalah seperti perkataanku kepada seorang wanita atau seumpama perkataanku kepada seorang wanita”. (HR al-Tirmizi 4/151-152, al-Nasa’i 7/149, Ibn Majah 2/959. al-Tirmizi menyebut : ‘Hadis ini hadis hasan sahih).
Hadis ini adalah nas yang jelas menunjukkan bahawa Nabi s.a.w. tidak bersalaman dengan wanita ketika berbai’ah. Jika Nabi seorang yang maksum tidak bersalaman ketika bai’ah, maka lebih aula hukumnya dalam situasi selain bai’ah. Apabila Rasulullah s.a.w. tidak bersalaman dengan wanita, sudah tentu kita juga wajib mengikut sunnah baginda kerana baginda s.a.w. adalah qudwah dan ikutan kita semua.
Wallahualam
apakah hukum menyalami wanita ajnabi?biasanya ahli politik bersalam dgn semua org.apakah hukumnya?
jawapan:
السلام عليكم ورحمة الله
بسم الله والحمد لله وبعد :
Berdasarkan pengamatan ulama, seorang lelaki tidak boleh bersalaman dengan wanita ajnabi.
Seorang tokoh mazhab Shafie yang disegani, Imam al-Nawawi menegaskan :
‘Sesungguhnya halal melihat kepada wanita ajnabi jika ia ingin menikahinya, atau ketika urusan jual beli, atau ketika mengambil sesuatu barang atau memberi kepadanya dan seumpamanya dan tidak harus menyentuhnya dalam sesuatu situasi berkenaan’. (al-Azkar, 228).
Dalilnya ialah ummul Mukminin Aisyah r.a pernah bersumpah menafikan Rasulullah s.a.w. pernah menyentuh tangan wanita dalam bai’ah peristiwa hijrah :
‘Demi Allah, tangan baginda tidak pernah menyentuh tangan wanita pun, baginda hanya berbai’ah dengan ucapan’. (Fath al-Bari 11/345-346 dan Sharh Sahih Muslim 13/10).
Hadis ini menjelaskan bahawa bai’ah wanita hanya berlaku dengan ucapan sahaja tanpa bersalaman. (Sharh Sahih Muslim 13/10).
Ini disokong oleh satu riwayat lain di mana Umaimah binti Raqiqah r.ah pernah berkata : ‘Aku datang kepada Rasulullah s.a.w. dalam kumpulan wanita, kami ingin berbai’ah dengannya. Kami berkata : “Kami berbai’ah denganmu wahai Rasulullah bahawa kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu, kami tidak mencuri, tida berzina, tidak membunuh anak-anak kami dan kami tidak akan membuat cerita dusta yang direka-reka serta kami tidak akan mengingkari perintahmu pada kebenaran”. Lantas Rasulullah s.aw. bersabda : “Pada perkara yang kamu mampu dan berdaya”. Umaimah menceritakan lagi : “Kami berkata bahawa Allah dan RasulNya lebih mengasihani kami daripada diri kami, ayuhlah kami ingin berbai’ah denganmu wahai Rasulullah”. Lalu Nabi s.a.w menjawab : “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita, sesungguhnya perkataanku kepada seratus orang wanita adalah seperti perkataanku kepada seorang wanita atau seumpama perkataanku kepada seorang wanita”. (HR al-Tirmizi 4/151-152, al-Nasa’i 7/149, Ibn Majah 2/959. al-Tirmizi menyebut : ‘Hadis ini hadis hasan sahih).
Hadis ini adalah nas yang jelas menunjukkan bahawa Nabi s.a.w. tidak bersalaman dengan wanita ketika berbai’ah. Jika Nabi seorang yang maksum tidak bersalaman ketika bai’ah, maka lebih aula hukumnya dalam situasi selain bai’ah. Apabila Rasulullah s.a.w. tidak bersalaman dengan wanita, sudah tentu kita juga wajib mengikut sunnah baginda kerana baginda s.a.w. adalah qudwah dan ikutan kita semua.
Wallahualam
Lupa solat...
Terlupa Mengerjakan Solat
Bila seseorang terlupa mengerjakan solat, baik kerana tertidur atau kerana lain hal, maka hendaklah ia segera mengerjakannya seketika tersedar. Misalnya, kerana ketiduran, sehingga waktu solat subuh sudah habis. Maka ketika ia terbangun, segeralah berwudhu dan tunaikanlah solat subuhnya. Solat tersebut bukan qadha (membayar hutang), tetapi solat dengan sesungguhnya. Allah s.w.t. akan memaafkan kerana ia terlupa. Begitu pula bila peristiwa serupa lainnya terjadi secara tidak sengaja.
Sujud Tilawah
Sujud Tilawah dapat dilakukan apabila seseorang membaca ayat Al Qur'an dan tiba pada tempat-tempat yang dianjurkan bersujud, baik dalam solat atau diluar solat. Dalam sujud dianjurkan membaca:
Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wasyaqqa sam'ahu wabasharahu bihawlihi waquwwatihi.
"Aku bersujud kepada Allah yang menciptakannya, memberikan pendengaran dan penglihatan dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya".
Bila sujud tilawah dilakukan di luar solat, pembaca ayat yang ditentukan melakukan sujud Tilawah, maka pendengar (menyaksikan) dianjurkan ikut bersujud; bila mereka tidak ikut bersujud, maka tidak akan berdosa baginya.
Bila dalam solat berjamaah dan Imam bersujud Tilawah, maka makmum wajib ikut bersujud, bila makmum tidak bersujud, maka gugurlah kedudukan sebagai anggota solat berjamaah.
Bila seseorang terlupa mengerjakan solat, baik kerana tertidur atau kerana lain hal, maka hendaklah ia segera mengerjakannya seketika tersedar. Misalnya, kerana ketiduran, sehingga waktu solat subuh sudah habis. Maka ketika ia terbangun, segeralah berwudhu dan tunaikanlah solat subuhnya. Solat tersebut bukan qadha (membayar hutang), tetapi solat dengan sesungguhnya. Allah s.w.t. akan memaafkan kerana ia terlupa. Begitu pula bila peristiwa serupa lainnya terjadi secara tidak sengaja.
Sujud Tilawah
Sujud Tilawah dapat dilakukan apabila seseorang membaca ayat Al Qur'an dan tiba pada tempat-tempat yang dianjurkan bersujud, baik dalam solat atau diluar solat. Dalam sujud dianjurkan membaca:
Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wasyaqqa sam'ahu wabasharahu bihawlihi waquwwatihi.
"Aku bersujud kepada Allah yang menciptakannya, memberikan pendengaran dan penglihatan dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya".
Bila sujud tilawah dilakukan di luar solat, pembaca ayat yang ditentukan melakukan sujud Tilawah, maka pendengar (menyaksikan) dianjurkan ikut bersujud; bila mereka tidak ikut bersujud, maka tidak akan berdosa baginya.
Bila dalam solat berjamaah dan Imam bersujud Tilawah, maka makmum wajib ikut bersujud, bila makmum tidak bersujud, maka gugurlah kedudukan sebagai anggota solat berjamaah.
Subscribe to:
Posts (Atom)